Showing posts with label Mutiara Hati. Show all posts
Showing posts with label Mutiara Hati. Show all posts

Sunday, April 29, 2012

Memperdengarkan Al-Qur`an dapat Meningkatkan IQ Balita

Ternyata Al-Qur’an dapat merangsang tingkat inteligensia (IQ) anak, yakni ketika bacaan ayat-ayat Kitab Suci itu diperdengarkan dekat mereka. Dr. Nurhayati dari Malaysia mengemukakan hasil penelitiannya tentang pengaruh bacaan Al-Qur’an dapat meningkatkan…
IQ bayi yang baru lahir dalam sebuah Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam sekitar tujuh tahun yang lalu. Dikatakannya, bayi yang berusia 48 jam saja akan langsung memperlihatkan reaksi wajah ceria dan sikap yang lebih tenang.
Penulis pun mempunyai seorang keponakan yang lahir tahun 2002. Entah ada kaitan dengan dengan argumentasi di atas, yang jelas sebelum umurnya satu tahun, ia sering baru bisa tidur bila di sampingnya diperdengarkan suara orang mengaji melalui tape recorder.
Seperti diketahui, dengan mendengarkan musik, detak jantung bayi menjadi teratur. Malah untuk orang dewasa akan menimbulkan rasa cinta. Hanya arahnya tidak tentu.
Sedangkan Al-Qur’an, selain itu, sekaligus menimbulkan rasa cinta kepada Tuhan Maha Pencipta. Jadi, bila bacaan Al-Qur’an diperdengarkan kepada bayi, akan merupakan bekal bagi masa depannya sebagai Muslim, dunia maupun akhirat.

Thursday, June 16, 2011

Jagalah ALLAH dalam hatimu

Dari Abil Abbas Abdullah bin Abbas dia berkata :

    "Dahulu aku pernah berada di belakang Rasulullah, lalu beliau bersabda : "Wahai anak kecil sesungguhnya aku ingin mengajarimu beberapa kata, jagalah ALLAH, maka pasti ALLAH menjagamu, jagalah ALLAH pasti kau akan menjumpai-Nya dihadapanmu. Apabila engkau meminta maka mintalah kepada ALLAH dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada ALLAH. Ketahuilah, seandainya suatu umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu maka mereka tidak dapat memberi manfaat tersebut kecuali yang telah ditakdirkan ALLAH untukmu dan apabila mereka berkumpul untuk memudaratkanmu maka mereka tidak dapat memudharatkanmu kecuali dengan apa-apa yang ditakdirkan oleh ALLAH atasmu, telah di angkat pena dan telah kering tinta" (HR. Tirmidzi, dan dia berkata hadits hasan sahih).


Di dalam riwayat selain Tirmidzi : "Jagalah ALLAH maka engkau akan mendapatkan-Nya dihadapanmu, kenalilah ALLAH di kala senang maka Dia akan mengenalmu di kala susah. Ketahuilah sesungguhnya apa yang tidak menimpamu maka dia tidak akan menimpamu dan apa yang akan menimpamu pasti dia akan menimpamu (tidak akan meleset). Dan ketahuilah bahawa kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan dan setelah kesulitan pasti ada kemudahan."

Thursday, March 11, 2010

Akhlak terhadap Lingkungan

Yang dimaksud lingkungan di sini adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa.
Pada dasarnya, akhlak yang diajarkan Al-Quran terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah.

Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.
Dalam pandangan akhlak Islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah sebelum matang, atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.

Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua proses yang sedang terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga ia tidak melakukan perusakan, bahkan dengan kata lain, "Setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia sendiri."
Binatang, tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa semuanya diciptakan oleh ALLAH SWT dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan sang Muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah "umat" Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.

Akhlak terhadap ALLAH

Akhlak terhadap ALLAH adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada ilah (Tuhan, yang didahulukan) melainkan ALLAH.
ALLAH memiliki sifat-sifat terpuji; demikian agung sifat itu, yang jangankan manusia, malaikat pun tidak akan mampu menjangkau hakikat-Nya.

Maha Suci Engkau --Wahai ALLAH-- kami tidak mampu memuji-Mu; Pujian atas-Mu, adalah yang Engkau pujikan kepada diri-Mu, demikian ucapan para malaikat.
Itulah sebabnya mengapa Al-Quran mengajarkan kepada manusia untuk memuji-Nya, Wa qul al-hamdulillah (Katakanlah "Al-hamdulillaaHh"). Dalam Al-Quran surat An-Naml (27): 93, secara tegas dinyatakan-Nya bahwa :
Dan katakanlah, "Segala puji bagi ALLAH, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan." (QS.An-Naml (27): 93)
Mahasuci ALLAH dan segala sifat yang mereka sifatkan kepada-Nya, kecuali (dari) hamba-hamba ALLAH yang terpilih (QS Ash-Shaffat [37]: 159-160).

Akhlak terhadap Sesama Manusia dalam Islam

Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Quran berkaitan dengan perlakuan terhadap sesama manusia.

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang disertai dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima) (QS Al-Baqarah [2]: 263).

Di sisi lain Al-Quran menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukkan secara wajar. Nabi Muhammad SAW. --misalnya-- dinyatakan sebagai manusia seperti manusia yang lain.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya (QS An-Nur [24]: 27).
Salam yang diucapkan itu wajib dijawab dengan salam yang serupa, bahkan juga dianjurkan agar dijawab dengan salam yang lebih baik (QS An-Nisa' [4]: 86).
Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia (QS Al-Baqarah [2]: 83).

Saturday, February 20, 2010

Mutiara Hati

Nabi Sulaiman bin Daud as. berkata :
"Sesungguhnya pekerjaan mengalahkan nafsu lebih berat
daripada menaklukkan sebuah kota sendirian."

Ali bin Abi Thalib kw. berkata :
"Aku dan nafsuku tidak pernah ada, kecuali hanya seorang penggembala kambing.
Acapkali dia menggiring kambingnya dari satu arah,
maka kambing-kambing kembali berpencar lewat arah lain.
Dan barangsiapa yang berhasil membunuh nafsu,
ia akan dikafani dengan Rahmat dan dikebumikan pada Kemuliaan.
Dan barangsiapa yang hatinya mati (mengikuti hawa nafsu),
ia akan dikafan dengan laknat dan dikubur di bumi siksaan."